Aksi Konservasi Beruk dan Monyet Ekor Panjang di Bandung
radarbandung.web.id Isu perlindungan satwa kembali mengemuka di Kota Bandung. Sejumlah aktivis lingkungan turun ke ruang publik untuk menyuarakan pentingnya perlindungan terhadap beruk dan monyet ekor panjang yang selama ini masih menghadapi berbagai bentuk kekerasan.
Aksi ini menjadi bentuk keprihatinan atas kondisi dua spesies primata tersebut yang terus mengalami tekanan akibat aktivitas manusia. Mulai dari perburuan, perdagangan ilegal, hingga eksploitasi sebagai hewan pekerja masih sering ditemukan di berbagai wilayah.
Kampanye ini mengangkat pesan kuat tentang kemanusiaan dan keberlanjutan ekosistem. Aktivis menilai bahwa sudah saatnya negara memberikan perlindungan hukum yang lebih tegas terhadap satwa yang keberadaannya semakin terancam.
Kampanye konservasi di ruang publik
Aksi yang digelar membawa tema besar “Nol Penyiksaan, Nol Penindasan, Nol Kekejaman”. Pesan ini menjadi simbol perlawanan terhadap praktik perlakuan tidak manusiawi terhadap satwa liar.
Para aktivis membawa poster, spanduk, serta materi edukasi yang berisi informasi tentang kondisi beruk dan monyet ekor panjang di alam.
Kampanye dilakukan secara damai dan terbuka. Tujuannya bukan hanya menyampaikan tuntutan, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat.
Banyak warga yang berhenti sejenak untuk membaca pesan yang disampaikan dan berdialog dengan para aktivis.
Peran komunitas lingkungan
Aksi ini digagas oleh Komunitas Bandung Menggugat melalui perwakilannya, Wanggi Hoed. Komunitas tersebut dikenal aktif menyuarakan isu lingkungan dan keadilan ekologis.
Menurut para aktivis, keberadaan beruk dan monyet ekor panjang selama ini kerap dipandang sebelah mata.
Kedua satwa tersebut sering diberi label sebagai hama, terutama di wilayah perkebunan dan permukiman yang berbatasan dengan hutan.
Label tersebut dinilai menjadi pembenaran atas tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap satwa.
Satwa yang terus terdesak aktivitas manusia
Beruk dan monyet ekor panjang sebenarnya memiliki peran penting dalam ekosistem. Mereka membantu penyebaran biji dan menjaga keseimbangan hutan.
Namun, alih fungsi lahan membuat habitat alami mereka semakin menyempit.
Ketika ruang hidup berkurang, konflik dengan manusia menjadi sulit dihindari.
Satwa yang masuk ke permukiman sering dianggap mengganggu, padahal kondisi tersebut terjadi akibat rusaknya habitat alami mereka.
Eksploitasi sebagai hewan pekerja
Selain konflik habitat, bentuk eksploitasi lain yang disoroti adalah penggunaan monyet sebagai hewan pekerja.
Di beberapa daerah, monyet masih digunakan untuk memetik kelapa atau melakukan pekerjaan tertentu.
Aktivis menilai praktik ini sarat dengan kekerasan dan pelatihan yang menyakitkan.
Satwa dipaksa bekerja dalam kondisi tidak layak, tanpa memperhatikan kesejahteraan fisik maupun mentalnya.
Perdagangan ilegal masih terjadi
Masalah lain yang menjadi perhatian adalah perdagangan satwa liar.
Beruk dan monyet ekor panjang masih diperdagangkan secara ilegal, baik untuk dipelihara maupun diekspor.
Aktivitas ini sering berlangsung secara tersembunyi, namun dampaknya sangat besar terhadap populasi di alam.
Penangkapan liar menyebabkan jumlah satwa terus menurun dari tahun ke tahun.
Status konservasi jadi sorotan
Aktivis menekankan bahwa kedua spesies ini telah masuk kategori terancam berdasarkan penilaian International Union for Conservation.
Penilaian tersebut menunjukkan bahwa populasi beruk dan monyet ekor panjang di alam mengalami penurunan signifikan.
Meski demikian, hingga kini keduanya belum sepenuhnya masuk dalam daftar satwa yang dilindungi secara nasional.
Kondisi ini dianggap menjadi celah hukum yang memungkinkan eksploitasi terus terjadi.
Tuntutan status satwa dilindungi
Melalui aksi ini, aktivis mendesak pemerintah untuk menetapkan beruk dan monyet ekor panjang sebagai satwa dilindungi.
Status tersebut dinilai penting agar penegakan hukum bisa dilakukan secara lebih tegas.
Dengan perlindungan hukum, perburuan dan perdagangan ilegal dapat ditekan.
Selain itu, eksploitasi satwa untuk kepentingan ekonomi diharapkan bisa dihentikan secara bertahap.
Edukasi publik jadi langkah penting
Selain tuntutan kebijakan, edukasi masyarakat juga menjadi fokus utama kampanye.
Banyak orang belum memahami bahwa tindakan terhadap satwa liar memiliki konsekuensi jangka panjang.
Aktivis berupaya mengubah sudut pandang masyarakat dari melihat satwa sebagai hama menjadi bagian dari ekosistem.
Perubahan cara pandang ini dianggap sebagai fondasi penting bagi konservasi berkelanjutan.
Lingkungan dan etika kemanusiaan
Isu ini tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga soal etika kemanusiaan.
Bagaimana manusia memperlakukan makhluk hidup lain mencerminkan nilai peradaban.
Kekejaman terhadap satwa dinilai tidak sejalan dengan prinsip hidup berdampingan secara harmonis.
Aktivis menekankan bahwa perlindungan satwa adalah bagian dari tanggung jawab moral manusia.
Harapan terhadap kebijakan berkelanjutan
Para aktivis berharap aksi ini dapat membuka ruang dialog antara masyarakat sipil dan pemerintah.
Kebijakan konservasi perlu disusun secara menyeluruh, melibatkan ahli, komunitas, dan warga.
Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan empati dinilai sebagai kunci utama.
Dengan kebijakan yang tepat, konflik manusia dan satwa dapat diminimalkan.
Kesimpulan
Aksi konservasi beruk dan monyet ekor panjang di Bandung menjadi pengingat penting bahwa perlindungan satwa masih membutuhkan perhatian serius.
Tekanan terhadap habitat, eksploitasi, dan perdagangan ilegal membuat kedua spesies berada dalam kondisi rentan.
Melalui kampanye damai, aktivis mendorong perubahan kebijakan sekaligus kesadaran publik.
Perlindungan satwa bukan hanya soal menjaga alam, tetapi juga tentang membangun masa depan yang lebih beradab dan berkelanjutan bagi semua makhluk hidup.

Cek Juga Artikel Dari Platform liburanyuk.org
