Penataan Kota Bandung Dinilai Belum Efektif Atasi Banjir
Banjir Kembali Ganggu Aktivitas Warga
Hujan deras yang mengguyur Bandung kembali memicu banjir dan genangan di sejumlah titik. Kondisi ini menghambat aktivitas warga, mulai dari mobilitas kerja hingga kegiatan ekonomi harian. Beberapa kawasan yang kerap disebut mengalami genangan antara lain Kiaracondong dan Pajajaran, terutama saat intensitas hujan meningkat meski dalam durasi singkat.
Situasi berulang ini memunculkan kritik publik terkait efektivitas kebijakan penataan kota dalam mengurangi risiko banjir. Warga menilai, upaya yang dilakukan belum memberikan dampak signifikan di lapangan.
Kritik terhadap Perencanaan Penataan Kota
Sejumlah pengamat dan warga menyampaikan pandangan bahwa penataan kota belum disertai perencanaan lingkungan yang menyeluruh. Proyek penataan trotoar dan pelebaran jalan dinilai kurang mempertimbangkan kebutuhan resapan air, sehingga limpasan hujan tidak tertahan dan cepat menggenang.
Dalam pandangan kritis tersebut, pendekatan pembangunan yang menekankan estetika kota dinilai belum diimbangi dengan penguatan fungsi ekologis. Betonisasi yang meluas dianggap mengurangi daya serap tanah, sementara kapasitas drainase belum sepenuhnya menyesuaikan perubahan tutupan lahan.
Betonisasi dan Ruang Hijau Jadi Sorotan
Kritik juga diarahkan pada berkurangnya ruang terbuka hijau akibat penebangan pohon dan pemadatan tanah di sejumlah koridor jalan. Padahal, vegetasi dan tanah terbuka berperan penting menahan dan menyerap air hujan.
Beberapa pihak menilai, tanpa penambahan ruang hijau dan area resapan, setiap musim hujan berpotensi kembali memunculkan genangan. Kondisi ini diperparah jika pembangunan tidak didahului kajian hidrologi dan peta kerawanan banjir yang memadai.
Drainase Dinilai Belum Optimal
Klaim perbaikan drainase juga menjadi perhatian publik. Di lapangan, masih ditemukan jalan yang tergenang meski hujan tidak berlangsung lama. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang kapasitas saluran, pemeliharaan rutin, serta konektivitas drainase antarwilayah.
Sebagian warga menilai perlu ada audit teknis menyeluruh terhadap sistem drainase, termasuk identifikasi titik sumbatan dan penyesuaian kapasitas saluran dengan kondisi terkini kota.
Tanggapan atas Kepemimpinan Kota
Kritik tersebut diarahkan pada kepemimpinan Muhammad Farhan, yang dinilai perlu memperkuat arah kebijakan pengendalian banjir. Penataan kota diharapkan tidak hanya memperindah ruang publik, tetapi juga meningkatkan ketahanan lingkungan.
Para pengkritik menekankan pentingnya kebijakan berbasis data dan kajian banjir yang komprehensif agar pembangunan tidak menambah risiko genangan di wilayah rawan.
Rekomendasi dan Harapan Warga
Sebagai solusi, warga dan pengamat menyarankan beberapa langkah konkret, antara lain:
- Menambah ruang resapan air dan memperluas ruang terbuka hijau.
- Mengevaluasi proyek betonisasi yang berpotensi mengurangi daya serap tanah.
- Memperkuat kapasitas dan pemeliharaan drainase secara terpadu.
- Melibatkan kajian teknis dan partisipasi publik dalam perencanaan pembangunan.
Harapan besar disampaikan agar pemerintah kota membuka ruang dialog, mendengar kritik publik, dan segera mengambil langkah terukur. Dengan kebijakan yang lebih terintegrasi dan berorientasi lingkungan, warga berharap Kota Bandung dapat mengurangi risiko banjir yang selama ini terus mengganggu kehidupan sehari-hari.
Baca Juga : Mobilio Tabrak Bus di U-Turn Indramayu, Dua Luka
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : musicpromote

