Ekonomi Bandung On Track, Ketimpangan Jadi Tantangan
Ekonomi Kota Bandung dalam Jalur Positif
Kinerja ekonomi Kota Bandung menunjukkan tren yang cukup menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi tercatat berada pada jalur yang tepat dan mencerminkan pemulihan serta stabilitas aktivitas ekonomi perkotaan. Capaian ini menjadi sinyal bahwa berbagai sektor penggerak ekonomi masih berjalan relatif kuat di tengah dinamika global dan tantangan domestik yang terus berubah.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan bahwa secara makro, kondisi ekonomi kota berada dalam kondisi yang terkendali. Pertumbuhan ekonomi yang konsisten menjadi indikator bahwa aktivitas produksi, konsumsi, dan jasa masih mampu menopang pergerakan ekonomi daerah. Namun, di balik angka pertumbuhan tersebut, terdapat persoalan struktural yang masih memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah.
Capaian Pertumbuhan dan Indikator Sosial
Berdasarkan data terbaru yang dipaparkan Pemerintah Kota Bandung, pertumbuhan ekonomi pada semester pertama tercatat berada di atas lima persen. Pada periode berikutnya, laju pertumbuhan tetap terjaga meski mengalami sedikit penyesuaian. Angka ini menunjukkan bahwa perekonomian Bandung masih memiliki daya tahan yang cukup baik.
Selain pertumbuhan ekonomi, indikator sosial juga menunjukkan perkembangan positif. Tingkat kemiskinan mengalami penurunan hingga berada di bawah empat persen, sementara tingkat pengangguran terbuka juga mencatatkan tren penurunan. Kondisi ini menandakan bahwa aktivitas ekonomi mampu menyerap tenaga kerja dan memberikan dampak pada pengurangan jumlah penduduk miskin secara agregat.
Meski demikian, Farhan menegaskan bahwa indikator-indikator tersebut tidak boleh dibaca secara terpisah dari kondisi pemerataan kesejahteraan masyarakat. Angka rata-rata yang membaik belum tentu mencerminkan kondisi seluruh lapisan warga.
Ketimpangan Sosial Masih Menjadi PR Besar
Di tengah capaian ekonomi yang positif, persoalan ketimpangan sosial masih menjadi tantangan utama. Hal ini tercermin dari gini ratio Kota Bandung yang berada di kisaran 0,4. Angka tersebut tergolong tinggi jika dibandingkan dengan standar nasional yang berada di sekitar 0,3. Ketimpangan ini menunjukkan adanya jarak yang cukup lebar antara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan kelompok rentan.
Wali Kota Bandung menekankan bahwa meskipun jumlah penduduk miskin berkurang, kualitas kemiskinan justru menjadi tantangan baru. Terdapat kelompok masyarakat yang berada di ambang kerentanan, sehingga sangat mudah terdorong kembali ke dalam kondisi miskin ketika terjadi guncangan ekonomi atau sosial.
Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah bahwa pembangunan tidak cukup hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi semata. Tanpa kebijakan pemerataan yang kuat, pertumbuhan berisiko hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.
Pembangunan Harus Lebih Inklusif
Farhan menegaskan bahwa arah pembangunan Kota Bandung ke depan harus lebih inklusif dan berkeadilan. Pertumbuhan ekonomi perlu diiringi dengan kebijakan yang berpihak pada kelompok rentan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata. Hal ini mencakup akses terhadap pekerjaan layak, pendidikan, layanan kesehatan, serta perlindungan sosial.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya angka pertumbuhan, tetapi juga dari sejauh mana kesejahteraan masyarakat dapat tersebar secara adil. Pemerintah Kota Bandung berkomitmen untuk menjadikan isu ketimpangan sebagai salah satu fokus utama dalam perencanaan kebijakan.
Pendekatan yang lebih presisi dinilai diperlukan agar intervensi pemerintah benar-benar menyasar kelompok yang membutuhkan, bukan sekadar bersifat umum dan kurang efektif.
Peran Data dalam Perumusan Kebijakan
Penguatan kebijakan berbasis data menjadi salah satu strategi utama dalam menjawab tantangan ketimpangan. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah Kota Bandung menekankan bahwa data yang akurat dan terintegrasi merupakan fondasi penting bagi pembangunan daerah.
Forum Satu Data Indonesia tingkat Kota Bandung menjadi ruang strategis untuk memperkuat integrasi data lintas sektor. Melalui forum ini, pemerintah daerah berupaya memastikan bahwa setiap kebijakan didasarkan pada informasi yang valid, mutakhir, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tanpa dukungan data yang kuat, kebijakan berisiko tidak tepat sasaran dan sulit dievaluasi dampaknya secara objektif.
Integrasi Data Hingga Tingkat Wilayah
Pemkot Bandung terus mendorong penguatan Satu Data melalui berbagai inisiatif, termasuk integrasi data hingga tingkat RW. Inovasi seperti LACI RW dan pemanfaatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional menjadi instrumen penting untuk memetakan kondisi masyarakat secara lebih detail.
Dengan data yang terintegrasi, pemerintah dapat mengidentifikasi kelompok rentan, memahami pola kemiskinan, serta merancang program yang lebih sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas program sosial dan ekonomi yang dijalankan.
Selain itu, dukungan terhadap pelaksanaan sensus ekonomi mendatang juga menjadi bagian dari upaya memperkuat basis data pembangunan jangka panjang.
Data sebagai Kunci Pelayanan Publik
Penguatan tata kelola data tidak hanya berdampak pada perencanaan pembangunan, tetapi juga pada peningkatan kualitas pelayanan publik. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat merespons kebutuhan masyarakat secara lebih cepat dan tepat.
Pelayanan publik yang berbasis data memungkinkan alokasi sumber daya yang lebih efisien serta meminimalkan kesalahan sasaran. Hal ini menjadi penting dalam konteks keterbatasan anggaran dan meningkatnya kompleksitas persoalan perkotaan.
Pemerintah Kota Bandung menegaskan bahwa komitmen terhadap Satu Data bukan sekadar agenda administratif, melainkan bagian dari transformasi tata kelola pemerintahan.
Menjaga Pertumbuhan dan Mengurangi Ketimpangan
Melalui Forum Satu Data, Pemkot Bandung menegaskan visinya untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan. Pertumbuhan yang berkualitas harus mampu menciptakan peluang bagi seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya segelintir kelompok.
Dengan menjadikan data sebagai pijakan utama kebijakan, Pemerintah Kota Bandung berharap dapat menghadirkan pembangunan yang lebih adil, adaptif, dan berkelanjutan. Tantangan ketimpangan sosial memang tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat, namun dengan arah kebijakan yang jelas dan berbasis data, upaya pengurangannya dapat dilakukan secara lebih terukur dan konsisten.
Baca Juga : Jadwal SIM Keliling Bandung Hari Ini, Cek Lokasi Layanan
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : hotviralnews

