Lari Jadi Cara Anak Muda Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental
Olahraga lari belakangan semakin digemari anak muda. Tidak selalu dilakukan dalam event besar atau komunitas ramai, lari justru kerap hadir sebagai aktivitas sederhana yang dilakukan sendirian, di lapangan dekat rumah atau jalanan sekitar lingkungan tempat tinggal. Meski terlihat sederhana, manfaatnya dirasakan langsung oleh banyak pelaku, baik secara fisik maupun mental.
Manfaat tersebut dirasakan oleh Suci Atmarani, 25 tahun, seorang kreator konten yang memiliki rutinitas padat. Di sela aktivitasnya, Suci menyempatkan diri berlari di lapangan depan Balai Warga di sekitar rumahnya. Ia tidak mengejar target jarak, kecepatan, ataupun jumlah langkah tertentu. Patokannya sederhana: mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh kali, tiga kali dalam seminggu.
Lari sebagai Cara Mengelola Stres
Bagi Suci, lari bukan soal performa atau pencapaian. Aktivitas ini justru menjadi ruang jeda dari hiruk-pikuk pekerjaan dan tuntutan dunia digital.
“Aku lari rutin karena itu ngebantu aku buat bisa lebih produktif dan salah satu cara ngelola stres,” tulis Suci kepada BandungBergerak melalui pesan WhatsApp.
Rutinitas lari membantunya mengatur ulang energi dan fokus. Setelah berlari, Suci merasakan napas yang lebih teratur, tubuh lebih ringan, dan pikirannya lebih jernih. Efek ini membuatnya lebih siap kembali menghadapi pekerjaan yang menuntut kreativitas dan konsistensi.
Pengalaman Suci menunjukkan bahwa lari tidak selalu harus dilakukan dengan standar tertentu. Justru dengan pendekatan yang santai dan realistis, olahraga ini menjadi lebih mudah dijaga konsistensinya.
Dampak Fisik yang Terasa Bertahap
Manfaat lari bagi tubuh Suci tidak datang secara instan. Namun, seiring berjalannya waktu, ia merasakan perubahan yang signifikan. Stamina meningkat, tubuh terasa lebih bertenaga, dan kelelahan tidak lagi mudah datang.
Lari membantu memperkuat sistem pernapasan dan daya tahan tubuh. Meski dilakukan di lapangan kecil dengan jarak terbatas, aktivitas berulang tersebut tetap memberikan stimulus fisik yang cukup untuk menjaga kebugaran.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa olahraga lari tidak harus dilakukan di lintasan atletik atau rute panjang. Selama dilakukan rutin, lari di lingkungan rumah pun tetap memberikan manfaat nyata.
Meluapkan Emosi Lewat Gerak Tubuh
Pengalaman berbeda datang dari Fauziansyah Hartadi, 23 tahun, seorang guru Sekolah Dasar. Ia mulai berlari sejak 2019, sempat berhenti cukup lama, lalu kembali menekuninya pada tahun lalu. Ketertarikannya berawal dari kebiasaan berjalan kaki dan penggunaan fitur penghitung langkah di ponsel.
Dalam sekali sesi lari, Fauziansyah biasanya menempuh jarak 5 hingga 7 kilometer. Saat kondisi fisiknya prima, ia bahkan bisa berlari hingga belasan kilometer. Namun, bagi Fauziansyah, manfaat lari tidak selalu identik dengan perubahan suasana hati yang instan.
“Kalau lagi kalut, sedih, marah, atau mix feeling gitu biasanya enggak ilang perasaannya, tapi dengan lari, seenggaknya aku bisa meluapkan emosi yang enggak bisa dikeluarin,” ujarnya.
Lari menjadi media pelepasan emosi yang sulit disalurkan lewat kata-kata. Gerak tubuh, napas yang terengah, dan ritme langkah memberikan ruang bagi emosi untuk keluar secara aman.
Tidak Selalu Menghilangkan Masalah, Tapi Membantu Menghadapi
Fauziansyah menyadari bahwa lari bukan solusi ajaib untuk semua persoalan mental. Ia tidak selalu pulang dengan perasaan bahagia setelah berlari. Namun, tubuhnya terasa lebih sehat, pikirannya lebih tertata, dan emosinya tidak lagi menumpuk.
Kesadaran ini penting, terutama di tengah narasi populer yang sering menggambarkan olahraga sebagai solusi instan bagi masalah mental. Lari tidak menghapus masalah, tetapi membantu individu menghadapi dan mengelolanya dengan lebih baik.
Dalam konteks ini, lari berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti dukungan emosional lain seperti berbincang dengan orang terdekat atau mencari bantuan profesional.
Olahraga Sederhana yang Mudah Diakses
Salah satu alasan lari digemari anak muda adalah aksesibilitasnya. Lari tidak membutuhkan peralatan mahal atau tempat khusus. Lapangan warga, trotoar, atau jalan lingkungan sudah cukup menjadi arena berolahraga.
Di kota seperti Bandung, ruang-ruang publik tersebut masih relatif mudah dijumpai. Hal ini memungkinkan siapa pun untuk mulai berlari tanpa banyak persiapan.
Kondisi ini membuat lari menjadi olahraga yang inklusif. Tidak ada batasan usia, profesi, atau latar belakang. Setiap orang bisa menyesuaikan ritme dan intensitas sesuai kemampuan masing-masing.
Lari dan Keseimbangan Hidup Anak Muda
Pengalaman Suci dan Fauziansyah mencerminkan kecenderungan lebih luas di kalangan anak muda. Di tengah tekanan akademik, pekerjaan, dan tuntutan sosial, lari menjadi salah satu cara menjaga keseimbangan hidup.
Olahraga ini memberi ruang bagi tubuh untuk bergerak dan pikiran untuk bernapas. Dalam rutinitas yang serba cepat, lari menawarkan momen hening yang justru penuh makna.
Manfaatnya bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga tentang membangun relasi yang lebih sehat dengan diri sendiri—mengenali batas tubuh, menerima emosi, dan merawat keseharian dengan lebih sadar.
Penutup
Lari mungkin terlihat sebagai aktivitas sederhana, bahkan biasa. Namun bagi banyak anak muda, lari menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental. Seperti yang dialami Suci Atmarani dan Fauziansyah Hartadi, lari membantu mengelola stres, meluapkan emosi, serta memperkuat tubuh secara bertahap.
Di tengah tren dan gaya hidup yang terus berubah, lari tetap relevan karena kesederhanaannya. Tidak harus cepat, tidak harus jauh, dan tidak harus sempurna. Yang terpenting adalah konsistensi dan kesadaran akan manfaatnya.
Dengan langkah-langkah kecil yang diulang, lari menjadi cara sederhana untuk bertahan, menyeimbangkan diri, dan terus bergerak di tengah kehidupan yang padat.
Baca juga : Curhat ke AI Jadi Pilihan Gen Z di Tengah Tekanan Mental
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : carimobilindonesia

