Limbah Ternak Bandung Raya Masih Jadi Ancaman Citarum, Pengelolaan Baru Capai Seperempat
radarbandung.web.id Permasalahan limbah ternak di wilayah Bandung Raya kembali menjadi sorotan. Pengelolaan kotoran hewan ternak, khususnya dari peternakan sapi perah, dinilai masih jauh dari ideal. Hingga saat ini, hanya sebagian kecil limbah yang berhasil dikelola secara benar, sementara sisanya masih dibuang langsung ke lingkungan.
Kondisi ini berdampak langsung pada pencemaran Sungai Citarum. Sungai yang menjadi salah satu sumber air utama bagi masyarakat Jawa Barat tersebut terus menerima beban pencemaran dari berbagai sektor, termasuk limbah ternak. Jika tidak segera ditangani secara serius, dampaknya berpotensi semakin luas dan sulit dikendalikan.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menilai persoalan limbah ternak bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga persoalan tata kelola dan keberlanjutan sektor peternakan.
Wilayah Pangalengan dan Lembang Jadi Titik Krusial
Wilayah Pangalengan di Kabupaten Bandung dan Lembang di Kabupaten Bandung Barat menjadi contoh nyata persoalan ini. Kedua kawasan tersebut dikenal sebagai sentra peternakan sapi perah dengan populasi ternak yang besar. Aktivitas peternakan yang padat menghasilkan volume limbah yang tidak sedikit setiap harinya.
Di Pangalengan saja, tercatat puluhan ribu ekor sapi perah yang dikelola oleh ribuan peternak. Sayangnya, dari jumlah tersebut, limbah yang berhasil dikelola dengan sistem pengolahan yang memadai baru mencapai sekitar seperempat dari total produksi limbah.
Artinya, sebagian besar kotoran ternak masih dibuang secara langsung ke aliran sungai atau lingkungan sekitar. Praktik ini memperparah pencemaran air dan menurunkan kualitas lingkungan hidup di kawasan tersebut.
Dampak Limbah Ternak terhadap Sungai Citarum
Pembuangan limbah ternak ke Sungai Citarum membawa dampak serius. Kotoran hewan mengandung zat organik tinggi yang dapat menurunkan kualitas air. Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi memicu eutrofikasi, menurunkan kadar oksigen, dan merusak ekosistem perairan.
Selain itu, pencemaran limbah ternak juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Air sungai yang tercemar dapat berdampak pada sumber air bersih, pertanian, dan perikanan. Dalam jangka panjang, biaya pemulihan lingkungan akan jauh lebih besar dibandingkan upaya pencegahan.
Permasalahan ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah ternak tidak bisa dipandang sebagai isu lokal semata. Dampaknya bersifat regional dan memengaruhi banyak sektor kehidupan.
Keterbatasan Sistem Pengolahan Limbah
Salah satu kendala utama dalam pengelolaan limbah ternak adalah keterbatasan sistem dan infrastruktur. Banyak peternak skala kecil belum memiliki fasilitas pengolahan limbah yang memadai. Biaya pembangunan instalasi pengolahan sering kali menjadi hambatan utama.
Selain itu, pengetahuan peternak mengenai pengelolaan limbah berkelanjutan juga masih terbatas. Sebagian peternak belum sepenuhnya memahami dampak jangka panjang pembuangan limbah secara sembarangan. Hal ini membuat praktik lama terus berlanjut.
Tanpa dukungan teknologi, pendampingan, dan kebijakan yang berpihak, sulit mengharapkan perubahan signifikan di lapangan.
Potensi Limbah Ternak sebagai Sumber Energi
Di balik persoalan pencemaran, limbah ternak sebenarnya menyimpan potensi besar. Kotoran hewan dapat diolah menjadi energi terbarukan seperti biogas atau Bio-CNG. Pemanfaatan ini tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi.
Pengolahan limbah menjadi energi dapat membantu peternak mengurangi biaya operasional. Gas hasil olahan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga atau bahkan dikembangkan sebagai sumber energi alternatif skala lebih besar.
Inovasi teknologi pengolahan limbah ternak menjadi energi dinilai sebagai solusi yang menjanjikan. Namun, penerapannya membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan peternak.
Peran Pemerintah dan Kolaborasi Multipihak
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan pentingnya penanganan limbah ternak secara terpadu. Permasalahan ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri, dan komunitas peternak.
Pemerintah diharapkan dapat memperkuat regulasi sekaligus memberikan insentif bagi peternak yang menerapkan pengelolaan limbah ramah lingkungan. Di sisi lain, pendampingan teknis dan edukasi menjadi kunci agar peternak mampu menerapkan sistem pengolahan yang tepat.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi juga membuka peluang riset dan inovasi teknologi yang lebih aplikatif dan terjangkau bagi peternak kecil.
Tantangan Menuju Pengelolaan Limbah Berkelanjutan
Meski solusi tersedia, tantangan implementasi tetap besar. Perubahan perilaku peternak membutuhkan waktu dan pendekatan yang persuasif. Selain itu, keterbatasan anggaran dan infrastruktur menjadi hambatan nyata di lapangan.
Namun, tekanan lingkungan yang semakin meningkat membuat upaya perbaikan tidak bisa ditunda. Pengelolaan limbah ternak yang berkelanjutan menjadi keharusan, bukan lagi pilihan.
Jika tidak ditangani dengan serius, pencemaran Sungai Citarum akan terus berlanjut dan mengancam kualitas hidup masyarakat di sekitarnya.
Penutup
Pengelolaan limbah ternak di Bandung Raya masih menjadi pekerjaan rumah besar. Dengan tingkat pengelolaan yang baru mencapai sekitar 25 persen, dampak pencemaran terhadap Sungai Citarum masih sangat signifikan.
Di sisi lain, limbah ternak juga menyimpan potensi besar jika dikelola dengan tepat. Pemanfaatan sebagai sumber energi dan pupuk organik dapat menjadi solusi ganda, baik bagi lingkungan maupun ekonomi peternak.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, peternak, akademisi, dan sektor industri menjadi kunci utama. Tanpa langkah konkret dan berkelanjutan, persoalan limbah ternak akan terus menjadi ancaman serius bagi lingkungan Jawa Barat.

Cek Juga Artikel Dari Platform marihidupsehat.web.id
