Penerjun Payung Hilang di Pangandaran Akhirnya Ditemukan
Korban Penerjun Payung Ditemukan di Laut Pangandaran
Tim SAR Gabungan akhirnya menemukan korban kecelakaan terjun payung yang sempat dinyatakan hilang di perairan Pangandaran, Jawa Barat. Korban bernama Widiasih (58) ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah beberapa hari pencarian intensif dilakukan di laut lepas.
Penemuan jenazah ini mengakhiri operasi pencarian yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, TNI-Polri, pemerintah daerah, hingga nelayan setempat. Informasi penemuan pertama kali diterima dari nelayan asal Cilacap yang tengah melaut di perairan selatan Jawa.
Laporan Nelayan Jadi Titik Awal Penemuan
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, membenarkan bahwa laporan awal diterima dari nelayan KM Murah Rezeki. Nelayan tersebut melaporkan adanya jenazah yang mengapung di Perairan Bagolo, dengan jarak sekitar sembilan mil laut dari titik awal kejadian.
Berdasarkan ciri-ciri fisik yang disampaikan nelayan, tim SAR menduga kuat jenazah tersebut merupakan korban kecelakaan terjun payung yang selama ini dicari. Laporan itu segera ditindaklanjuti dengan pengerahan tim menuju koordinat yang dimaksud.
Proses Evakuasi Dilakukan dari Laut Lepas
Setelah menerima informasi, Tim SAR Gabungan langsung bergerak menuju lokasi penemuan. Evakuasi dilakukan menggunakan kapal SAR dengan mempertimbangkan kondisi gelombang dan arus laut selatan yang dikenal cukup kuat.
Jenazah korban berhasil dievakuasi dan dibawa ke Tempat Pelelangan Ikan Batukaras sebagai titik pendaratan terdekat. Selanjutnya, korban dibawa ke RSUD Pandega untuk penanganan lebih lanjut serta proses identifikasi medis.
Pihak SAR memastikan seluruh proses evakuasi dilakukan sesuai prosedur keselamatan dan kemanusiaan, mengingat lokasi penemuan berada cukup jauh dari garis pantai.
Operasi SAR Resmi Dihentikan
Dengan ditemukannya korban terakhir, Tim SAR Gabungan secara resmi menutup seluruh rangkaian operasi pencarian dan pertolongan. Seluruh unsur yang terlibat kemudian dikembalikan ke satuan masing-masing.
Ade Dian Permana menegaskan bahwa penutupan operasi dilakukan setelah memastikan tidak ada lagi korban yang dinyatakan hilang. Penutupan ini sekaligus menjadi akhir dari upaya pencarian yang telah berlangsung selama beberapa hari penuh.
Kronologi Kecelakaan Terjun Payung
Peristiwa kecelakaan ini bermula saat lima penerjun payung melakukan aktivitas terjun dari pesawat latih milik Fly School Ganesha. Mereka lepas landas dari Bandara Nusawiru menggunakan pesawat Cessna 185 PK-SRC.
Pada awal penerbangan, kondisi cuaca dilaporkan relatif normal. Namun, saat berada di ketinggian sekitar 10.000 kaki, arah dan kecepatan angin berubah secara tiba-tiba. Perubahan cuaca inilah yang diduga menjadi penyebab utama para penerjun kehilangan kendali arah.
Akibat kondisi tersebut, beberapa penerjun mendarat jauh dari titik pendaratan yang telah direncanakan sebelumnya.
Tiga Penerjun Selamat, Dua Meninggal Dunia
Dari lima penerjun payung yang terlibat, tiga orang berhasil selamat meski mendarat di lokasi yang berbeda. Ketiganya adalah Karni (56), Mustofa (56), dan Khuldori (54), yang kemudian dievakuasi oleh Tim SAR dalam kondisi selamat.
Namun, satu penerjun lainnya, Rusli (64), ditemukan dalam kondisi meninggal dunia lebih dahulu. Sementara Widiasih sempat dinyatakan hilang setelah diduga jatuh ke laut, hingga akhirnya ditemukan beberapa hari kemudian.
Kecelakaan ini menjadi duka mendalam bagi komunitas olahraga dirgantara dan keluarga para korban.
Cuaca Jadi Faktor Kunci Insiden
Tim SAR dan pihak terkait menilai perubahan cuaca ekstrem di ketinggian menjadi faktor utama terjadinya kecelakaan. Angin kencang dan perubahan arah secara mendadak dapat memengaruhi lintasan terjun payung, terutama di wilayah pesisir selatan yang dikenal memiliki dinamika cuaca cukup tinggi.
Kondisi ini menegaskan pentingnya analisis cuaca yang lebih ketat sebelum aktivitas penerbangan dan terjun payung dilakukan, terutama di wilayah dengan karakter angin laut yang kuat.
Pentingnya Standar Keselamatan Dirgantara
Insiden ini kembali menyoroti aspek keselamatan dalam kegiatan olahraga udara. Evaluasi terhadap prosedur keselamatan, kesiapan peralatan, serta pengambilan keputusan saat kondisi cuaca berubah menjadi hal krusial.
Para ahli menilai bahwa mitigasi risiko harus menjadi prioritas utama, termasuk kemungkinan pembatalan kegiatan jika kondisi cuaca tidak mendukung. Keselamatan peserta dinilai harus selalu berada di atas target atau jadwal kegiatan.
Duka dan Apresiasi untuk Tim SAR
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat luas. Di sisi lain, apresiasi juga disampaikan kepada Tim SAR Gabungan dan para nelayan yang berperan penting dalam proses pencarian dan penemuan korban.
Kolaborasi antara unsur SAR, aparat, dan masyarakat lokal dinilai menjadi kunci keberhasilan operasi pencarian di tengah tantangan medan laut yang berat.
Dengan ditemukannya seluruh korban, diharapkan keluarga dapat memperoleh kepastian dan proses penanganan selanjutnya dapat berjalan dengan baik. Tragedi ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan dan keselamatan dalam setiap aktivitas berisiko tinggi, terutama di ruang udara dan laut terbuka.
Baca Juga : Penyapu Jalan Ditabrak Saat Bersihkan Sampah Tahun Baru
Cek Juga Artikel Dari Platform : ketapangnews

