Ratusan Satwa Bandung Zoo Kekurangan Pakan, Pemkot Turun Tangan
Kondisi ratusan satwa di Kebun Binatang Bandung menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Setelah sempat muncul kekhawatiran terkait kekurangan pakan akibat konflik internal pengelola, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memfasilitasi pertemuan penting antara berbagai pihak untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan satwa tetap terjaga.
Pertemuan tersebut mempertemukan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Pemerintah Kota Bandung, serta pengurus Bandung Zoo. Hasilnya, disepakati langkah konkret untuk menjamin pemberian pakan kepada 711 satwa yang berada di kebun binatang tersebut.
Pemprov Jabar Turun Tangan Fasilitasi Kesepakatan
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil peran aktif dalam menyelesaikan persoalan yang berlarut-larut di Bandung Zoo. Dedi Mulyadi menugaskan Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, untuk mengawal langsung pertemuan lintas instansi tersebut.
Menurut Herman, fokus utama pertemuan adalah memastikan keselamatan satwa sekaligus membahas masa depan para pegawai kebun binatang yang terdampak penutupan operasional selama hampir lima bulan terakhir.
“Fokus ke keselamatan satwa dan masa depan pegawai,” ujar Herman saat memberikan keterangan kepada media.
Ia menegaskan bahwa persoalan pakan tidak boleh berlarut-larut karena menyangkut kesejahteraan makhluk hidup yang dilindungi undang-undang.
BBKSDA Pastikan Pakan dan Kesehatan 711 Satwa
Dalam kesepakatan tersebut, BBKSDA Jawa Barat yang berada di bawah Kementerian Kehutanan menyatakan kesiapan untuk mengambil alih tanggung jawab pemberian pakan satwa. Tidak hanya soal pakan, BBKSDA juga memastikan aspek kesehatan dan kesejahteraan seluruh satwa di Bandung Zoo tetap terpantau.
Sebanyak 711 satwa yang terdiri dari berbagai jenis mamalia, aves, dan reptil akan mendapatkan jaminan pakan secara berkelanjutan. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah kondisi satwa semakin memburuk akibat ketidakpastian pengelolaan.
BBKSDA juga akan bekerja sama dengan dokter hewan dan tenaga konservasi untuk memastikan kondisi fisik dan psikologis satwa tetap stabil di tengah situasi transisi pengelolaan.
Peran Serikat Pekerja dan Pemkot Bandung
Selain BBKSDA, Serikat Pekerja Kebun Binatang Bandung juga dilibatkan secara aktif. Mereka diberi peran untuk memonitor langsung proses pemberian pakan satwa sehari-hari. Keterlibatan pekerja dinilai penting karena merekalah yang paling memahami karakter dan kebutuhan masing-masing satwa.
Sementara itu, Muhammad Farhan selaku Wali Kota Bandung memastikan bahwa Pemkot tidak tinggal diam. Pemerintah kota akan ikut memantau pelaksanaan pemberian pakan serta membuka pembahasan lanjutan terkait masa depan para pegawai Bandung Zoo.
Pemkot Bandung juga akan terus berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Barat untuk mencari solusi jangka panjang agar kebun binatang tersebut dapat dikelola secara profesional, transparan, dan berkelanjutan.
Konflik Pengurus Jadi Akar Masalah
Sebagaimana diketahui, Kebun Binatang Bandung sempat ditutup selama kurang lebih lima bulan akibat konflik internal antar pengurus. Konflik tersebut berdampak langsung pada operasional, termasuk pendanaan untuk pakan satwa dan kesejahteraan pegawai.
Penutupan ini memicu keprihatinan publik, terutama dari pemerhati satwa dan masyarakat luas. Kekhawatiran terbesar adalah kondisi satwa yang bergantung sepenuhnya pada pengelola untuk pemenuhan kebutuhan dasar.
Meski demikian, dalam beberapa pekan terakhir, Bandung Zoo kembali dibuka secara terbatas untuk pengunjung.
Dibuka Terbatas, Pengunjung Diminta Berdonasi
Aktivitas kunjungan ke Bandung Zoo saat ini bersifat terbatas dan tidak dipungut biaya tiket masuk. Pengunjung diperbolehkan masuk secara gratis, namun diimbau untuk memberikan donasi sukarela yang akan digunakan khusus untuk pakan satwa.
Skema ini diterapkan sebagai solusi sementara sembari menunggu kejelasan manajemen dan keberlanjutan pendanaan operasional. Pemerintah menilai partisipasi publik melalui donasi bisa menjadi bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan satwa.
Namun demikian, Pemprov Jawa Barat menegaskan bahwa donasi masyarakat tidak boleh dijadikan satu-satunya sumber pemenuhan kebutuhan satwa. Negara tetap harus hadir melalui mekanisme yang sah dan terukur.
Isu Kesejahteraan Satwa Jadi Sorotan Publik
Kasus Bandung Zoo kembali membuka diskusi luas mengenai pengelolaan kebun binatang di Indonesia. Kesejahteraan satwa, transparansi manajemen, serta kejelasan status hukum pengelola menjadi isu yang kerap muncul.
Pengamat lingkungan menilai kebun binatang tidak boleh semata dipandang sebagai tempat wisata, tetapi juga sebagai lembaga konservasi yang memiliki tanggung jawab besar terhadap kehidupan satwa.
Dalam konteks ini, langkah cepat Pemprov Jawa Barat dan BBKSDA dinilai sebagai upaya penting untuk mencegah krisis kemanusiaan—atau lebih tepatnya krisis kesejahteraan satwa—yang lebih besar.
Menunggu Solusi Jangka Panjang
Kesepakatan pemberian pakan kepada 711 satwa menjadi solusi darurat yang sangat dibutuhkan. Namun, pemerintah daerah menyadari bahwa persoalan Bandung Zoo tidak berhenti di situ.
Ke depan, diperlukan pembenahan menyeluruh terkait tata kelola, status hukum, hingga model pendanaan kebun binatang agar kejadian serupa tidak terulang. Pemkot Bandung dan Pemprov Jawa Barat membuka opsi evaluasi total terhadap sistem pengelolaan yang ada.
Bagi masyarakat, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberadaan kebun binatang membawa tanggung jawab besar, bukan hanya kepada pengunjung, tetapi terutama kepada satwa yang hidup di dalamnya.
Dengan kolaborasi pemerintah, pekerja, dan masyarakat, diharapkan Bandung Zoo dapat kembali berfungsi secara layak—sebagai ruang edukasi, konservasi, dan rekreasi yang menjunjung tinggi kesejahteraan satwa.
Baca Juga : Jadwal SIM Keliling Bandung Hari Ini 29 Desember 2025
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : updatecepat

