Bandung Targetkan 800 Rusun Sadang Serang Hunian Terjangkau
radarbandung.web.id Pemerintah Kota Bandung terus mencari solusi untuk mengatasi kebutuhan hunian masyarakat yang semakin meningkat. Salah satu langkah yang kini disiapkan adalah pembangunan rumah susun di kawasan Sadang Serang. Proyek ini ditargetkan menghadirkan sekitar 800 unit hunian yang difokuskan bagi warga yang membutuhkan tempat tinggal dengan harga lebih terjangkau.
Program tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah kota dalam memperluas akses kepemilikan rumah di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, kebutuhan hunian vertikal dianggap sebagai solusi paling realistis untuk kota besar seperti Bandung.
Hunian Vertikal sebagai Solusi Perkotaan
Keterbatasan lahan menjadi tantangan utama pembangunan perumahan di wilayah perkotaan. Harga tanah yang terus naik membuat banyak masyarakat kesulitan membeli rumah tapak. Oleh karena itu, konsep rumah susun dinilai mampu menjawab persoalan tersebut secara lebih efisien.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menjelaskan bahwa proyek rusun Sadang Serang dirancang agar masyarakat memiliki kesempatan nyata untuk memiliki tempat tinggal sendiri. Pemerintah ingin memastikan bahwa hunian bukan hanya tersedia, tetapi juga dapat dijangkau secara finansial oleh warga.
Rumah susun dipilih karena mampu menampung lebih banyak keluarga dalam satu kawasan. Selain itu, pembangunan vertikal memungkinkan pemanfaatan lahan secara optimal tanpa memperluas kawasan kota secara berlebihan.
Skema Kepemilikan dengan Hak Guna Bangunan
Berbeda dengan rumah susun sewa atau rusunawa, proyek ini menggunakan konsep kepemilikan satuan rumah susun. Warga yang membeli unit nantinya memiliki hak atas hunian tersebut melalui skema Hak Guna Bangunan atau HGB.
Skema HGB dirancang berlaku selama 30 tahun. Dalam periode tersebut, penghuni memiliki kepastian hukum atas unit yang ditempati. Model ini diharapkan menjadi alternatif kepemilikan rumah yang lebih fleksibel di kawasan perkotaan.
Pemerintah kota menilai sistem ini dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat. Warga tidak hanya menyewa, tetapi juga memiliki hak kepemilikan yang jelas selama masa berlaku yang telah ditentukan.
Pendekatan ini sekaligus menjadi pembeda utama dibanding program rusunawa yang umumnya bersifat sementara.
Cicilan Terjangkau dengan Dukungan Subsidi
Agar program ini benar-benar dapat diakses masyarakat luas, Pemkot Bandung tengah mengupayakan dukungan subsidi pembiayaan. Bantuan tersebut bertujuan menjaga nilai cicilan tetap ringan bagi calon penghuni.
Pemerintah memperkirakan cicilan bulanan berada pada kisaran Rp1,5 juta hingga Rp2 juta. Skema pembayaran tersebut diharapkan masih berada dalam kemampuan finansial masyarakat berpenghasilan menengah.
Dengan sistem cicilan tersebut, warga berkesempatan melunasi kepemilikan hunian dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Setelah masa HGB berjalan, unit dapat dimiliki sesuai ketentuan yang berlaku.
Program ini diharapkan mampu menjadi solusi bagi pekerja muda, keluarga baru, serta masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses perumahan di kota besar.
Dampak Positif bagi Tata Kota Bandung
Selain membantu masyarakat mendapatkan hunian, pembangunan rusun juga memiliki dampak terhadap penataan kota. Hunian vertikal dinilai mampu mengurangi penyebaran permukiman tidak terencana yang sering muncul akibat keterbatasan lahan.
Dengan pembangunan terpusat, pemerintah dapat mengatur infrastruktur secara lebih efisien. Fasilitas umum seperti akses transportasi, ruang terbuka, serta layanan publik dapat dirancang sejak awal.
Kawasan Sadang Serang dipilih karena memiliki potensi pengembangan yang baik. Lokasinya dinilai strategis serta memiliki akses menuju berbagai pusat aktivitas masyarakat.
Pengembangan kawasan hunian modern juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus menciptakan kawasan permukiman yang lebih tertata.
Harapan untuk Generasi Muda dan Pekerja Kota
Tingginya harga properti sering menjadi hambatan bagi generasi muda untuk memiliki rumah pertama. Program rusun kepemilikan ini diharapkan membuka peluang baru bagi kelompok tersebut.
Dengan cicilan yang relatif stabil, masyarakat dapat merencanakan masa depan hunian secara lebih pasti. Kepemilikan tempat tinggal juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Pemerintah kota ingin memastikan bahwa pembangunan tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada kualitas hidup masyarakat. Hunian yang layak menjadi salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.
Melalui proyek ini, Bandung mencoba menghadirkan model perumahan yang lebih adaptif terhadap kondisi urban modern.
Langkah Awal Menuju Kota yang Lebih Inklusif
Target pembangunan 800 unit rumah susun di Sadang Serang menunjukkan komitmen pemerintah dalam menyediakan hunian inklusif. Program ini bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi bagian dari visi jangka panjang kota.
Hunian vertikal dipandang sebagai masa depan kota besar yang menghadapi keterbatasan ruang. Dengan perencanaan matang dan dukungan pembiayaan yang tepat, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk tinggal di lingkungan yang layak.
Jika program berjalan sesuai rencana, proyek ini berpotensi menjadi contoh pengembangan hunian perkotaan yang seimbang antara kebutuhan sosial dan tata ruang modern.
Ke depan, langkah serupa kemungkinan akan terus dikembangkan di berbagai wilayah Bandung guna memastikan setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan tempat tinggal yang aman dan terjangkau.

Cek Juga Artikel Dari Platform mabar.online
