Bukan Lagi Langganan Banjir, Rencana Besar Air Sukamiskin
Pemerintah Kota Bandung memberi perhatian serius terhadap persoalan genangan air yang kerap terjadi di Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik. Kawasan ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu titik rawan genangan ketika hujan deras turun. Namun, kondisi tersebut kini mulai ditangani secara lebih menyeluruh melalui rencana besar penanganan air yang disiapkan pemerintah kota.
Langkah ini merupakan tindak lanjut dari laporan warga yang disampaikan dalam kegiatan Siskamling Siaga Bencana ke-63. Aspirasi warga tersebut langsung direspons oleh Pemerintah Kota Bandung, yang menurunkan jajaran terkait untuk memastikan persoalan genangan tidak lagi berulang setiap musim hujan.
Wali Kota Tinjau Langsung Lokasi Rawan Genangan
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan turun langsung ke lapangan untuk memantau kondisi di Kelurahan Sukamiskin. Peninjauan ini dilakukan guna melihat secara langsung sumber permasalahan sekaligus memastikan langkah penanganan yang akan diambil benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan.
Dari hasil pengecekan, diketahui bahwa genangan air muncul akibat luapan sungai yang alirannya terbagi ke dua wilayah, yakni RW 7 Kelurahan Antapani Wetan dan RW 1 Kelurahan Sukamiskin. Meski berada dalam satu aliran sungai yang sama, dampak genangan yang dirasakan warga di kedua wilayah tersebut ternyata berbeda.
Perbedaan Dampak di Dua Wilayah
Lurah Sukamiskin Sofyan Ismail menjelaskan bahwa genangan paling lama terjadi di RW 1 Sukamiskin. Sementara itu, di RW 7 Antapani Wetan, air relatif lebih cepat surut setelah hujan reda.
Menurutnya, salah satu penyebab utama genangan adalah posisi sungai yang lebih tinggi dibandingkan badan jalan. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dan debit air sungai meningkat, air dengan mudah meluber ke jalan dan permukiman sekitar.
“Secara kondisi, ketinggian sungai itu lebih tinggi dari badan jalan. Jadi ketika hujan turun dan debit air naik, air meluber ke jalan,” jelas Sofyan.
Tanggul Buka-Tutup Jadi Tantangan Baru
Upaya penanganan sebenarnya telah dilakukan sebelumnya melalui pembangunan tanggul dengan sistem buka-tutup. Sistem ini dirancang untuk mengatur aliran air sungai dan mencegah luapan. Namun, dalam praktiknya, sistem tersebut justru menimbulkan persoalan baru ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi.
Sofyan menjelaskan, pada kondisi tertentu air sungai tidak dapat keluar secara optimal, sementara air dari jalan juga tidak bisa masuk kembali ke sungai. Akibatnya, air tergenang cukup lama dan harus ditangani dengan pompa.
“Air sungai tidak keluar, tapi air dari jalan juga tidak bisa masuk ke sungai. Akhirnya tergenang dan harus dipompa,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi catatan penting bagi Pemkot Bandung untuk meninjau ulang efektivitas sistem yang telah ada.
Solusi Jangka Pendek dan Menengah Disiapkan
Menanggapi permasalahan tersebut, Wali Kota Bandung bersama perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), langsung membahas berbagai opsi solusi. Penanganan dirancang tidak bersifat instan semata, tetapi dilakukan secara bertahap dan terukur.
Untuk jangka pendek, langkah yang paling memungkinkan adalah melakukan pengerukan sungai. Pengerukan ini bertujuan memperdalam alur sungai agar kapasitas tampung air meningkat saat hujan deras, sehingga potensi luapan dapat ditekan.
“Ke depan kemungkinan akan dilakukan pengerukan terlebih dahulu,” ujar Farhan.
Penguatan Saluran Air dan Kirmir Sungai
Selain pengerukan, solusi jangka menengah juga disiapkan melalui penguatan struktur sungai. Pemkot Bandung merencanakan penambahan batu kali di sisi kiri dan kanan sungai untuk memperkuat saluran air dan kirmir.
Langkah ini diharapkan mampu menahan tekanan air ketika debit meningkat, sekaligus memperbaiki stabilitas alur sungai. Dengan saluran yang lebih kuat dan tertata, risiko meluapnya air ke jalan dan permukiman warga dapat diminimalisir.
Menurut Farhan, penanganan ini tidak hanya berfokus pada satu titik, tetapi memperhitungkan sistem aliran air secara keseluruhan agar solusi yang diterapkan tidak memindahkan masalah ke wilayah lain.
Penanganan Bertahap demi Keberlanjutan
Pemkot Bandung menegaskan bahwa penanganan genangan di Sukamiskin akan dilakukan secara bertahap dan terukur. Pendekatan ini dipilih agar setiap langkah dapat dievaluasi efektivitasnya sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.
Dengan metode tersebut, pemerintah berharap penanganan banjir tidak bersifat tambal sulam, melainkan memberikan solusi jangka panjang yang berkelanjutan. Selain itu, koordinasi lintas perangkat daerah akan terus diperkuat agar pelaksanaan di lapangan berjalan optimal.
Harapan Warga Sukamiskin
Bagi warga Sukamiskin, rencana besar ini membawa harapan baru. Selama bertahun-tahun, genangan air menjadi persoalan rutin yang mengganggu aktivitas sehari-hari, merusak jalan, dan menimbulkan kekhawatiran saat musim hujan tiba.
Dengan keterlibatan langsung wali kota dan komitmen pemerintah kota, warga berharap kawasan mereka tidak lagi dikenal sebagai wilayah langganan banjir. Penanganan yang tepat diharapkan mampu meningkatkan rasa aman, kenyamanan, serta kualitas lingkungan permukiman.
Menuju Kawasan yang Lebih Aman dari Genangan
Rencana penanganan air di Sukamiskin menandai keseriusan Pemkot Bandung dalam merespons laporan warga dan mengatasi persoalan banjir secara sistematis. Melalui pengerukan sungai, penguatan saluran, dan evaluasi sistem yang ada, kawasan ini ditargetkan terbebas dari genangan yang selama ini menjadi momok.
Jika langkah-langkah tersebut berjalan sesuai rencana, Sukamiskin bukan hanya terbebas dari banjir, tetapi juga menjadi contoh penanganan genangan berbasis evaluasi lapangan dan solusi berkelanjutan di Kota Bandung.
Baca Juga : 17 Fokus Penataan Jalan Bandung 2026 Agar Lebih Tertib
Cek Juga Artikel Dari Platform : dapurkuliner

